Skip to content

Mengungkap Hakikat ‘Wahabi’ dan ‘Aswaja’

February 26, 2014
by

wahabi

“Berani-beraninya ‘wahabi’ ini membid’ah-bid’ahkan amalan ‘aswaja’! Emang duluan mana antara ‘wahabi’ dengan ‘aswaja?” Demikianlah kira-kira ucapan sebagian orang yang mengklaim sebagai penganut ‘aswaja’ kala mendapati para da’i yang tengah meluruskan berbagai amalan bid’ah di tengah masyarakat.

Aswaja dan Wahabi. Itulah dua istilah yang belakangan ini begitu mengemuka dalam kancah dinamika dakwah tanah air. Kedua istilah tersebut kerap menimbulkan salah persepsi dari berbagai kalangan dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya.

Term Aswaja dipopulerkan oleh organisasi nahdlatul ulama (NU) untuk melegitimasi paham dan amalan-amalan yang menjadi ciri khas mereka. Alhasil banyak masyarakat Muslim tanah air memahami ‘aswaja’ sebagai suatu aliran keberagamaan yang memiliki ciri-ciri dalam akidah dan amaliah sebagaimana diyakini dan diamalkan warga nahdliyin seperti: berakidah asy’ariyah-maturidiyah, mengamalkan tashawuf, sinkretisasi ajaran Islam dengan kultur warisan Hindu-Budha, membuka kreasi dan modifikasi beragama seluas-luasnya atas dalih bid’ah hasanah, bertawasul lewat perantara arwah para wali, ngalap berkah ke kuburan, serta mengultuskan kyai sedemikian rupa.

Dengan demikian, jika kita mau jujur maka akan tersingkaplah hakikat ‘aswaja’ sesungguhnya yang ternyata akar dari aliran tersebut bukanlah Islam sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya, melainkan satu paham baru yang merupakan perpaduan dari berbagai sekte dan pemikiran.

Lantas Siapa yang Disebut ‘Wahabi’?

Agaknya tak berlebihan bila dikatakan bahwa kaum ‘wahabiyin’ merupakan kelompok yang paling sering mendapat serangan frontal dari aswaja lewat sejumlah stigma horor. Menurut kyai aswaja, ‘wahabi’ selalu diidentikkan dengan satu pemahaman Islam yang radikal, intoleran serta membenarkan tindak terorisme. Benarkah stigma tersebut?

Sebelumnya, penting buat diketahui bahwa yang disebut aliran wahabiyah sesungguhnya adalah sebuah sekte yang didirikan oleh Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang meninggal tahun 211 H. Sekte wahabiyah itu sendiri merupakan salah satu cabang dari firqoh Khawarij. Oleh karena itu, jika yang dimaksud wahabi adalah pengikut dari Abdul Wahab Rustum kita tentu menyepakati kesesatannya.

Akan tetapi yang dimaksud ‘wahabi’ oleh ‘aswaja’ bukanlah penganut sekte bikinan Abdul Wahab Rustum ini, melainkan siapa saja yang sejalan dengan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Untuk itulah sejumlah propaganda yang bertujuan mendiskreditkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berikut dakwah tauhid yang ditegakkannya dilancarkan oleh para kyai ‘aswaja’.

Maka perlu diluruskan, tuduhan bahwa cikal bakal terorisme dalam dunia Islam dewasa ini berpangkal dari dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab merupakan tuduhan ngawur yang tidak berdasar. Sejarah justru mencatat, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab selalu menggandeng penguasa dalam menjalankan dakwah tauhidnya. Seperti ketika menghancurkan kubah di atas makam Zaid bin Khattab (?) yang dikeramatkan, beliau meminta izin kepada amir ‘Uyainah sehingga sang amir turut mengirimkan pasukan untuk membantu dan mengamankannya. Begitu pula tatkala memulai dakwah pemurnian tauhid di Dir’iyyah beliau mendapat perlindungan dari amir Dir’iyyah Muhammad Ibnu Saud.

Bahkan hingga hari ini, Arab Saudi yang dikatakan negara ‘wahabi’ dianggap sebagai darul kufur oleh jamaah takfir, sehingga sebuah teror bom yang didalangi Al-Qaida pernah mengguncang Riyadh pada tahun 2004. Semua itu membuktikan kebohongan soal tuduhan bahwa terorisme moderen dalam dunia Islam berakar dari dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Kebangkitan jamaah takfir yang berujung pada munculnya aksi terorisme di negeri-negeri Muslim, sejatinya merupakan buntut dari tersebarnya pemikiran revolusioner ala Sayyid Qutb yang menyerukan perlawanan terhadap pemerintah yang belum menegakkan hukum Islam.

Mengapa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang Selalu Diserang?

Bila sudah sedemikian terang, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tidak memiliki kaitan dengan pemahaman takfiri, lantas mengapa kaum tradisionalis tetap begitu membenci beliau? Benarkah beliau telah menciptakan satu mazhab baru yang bertentangan dengan mazhab yang empat? Sekali-sekali tidak. Syaikh rahimahullah justru seorang mujadid yang berjuang keras untuk mengembalikan aqidah umat Islam kepada aqidah yang haq sebagaimana aqidahnya para Sahabat Nabi, tabi’in, dan tabiut tabi’in, termasuk imam mazhab empat yakni aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berdasarkan pemahaman salafus salih.

Beliau berjihad memberantas kemusyirikan yang kala itu menyebar di Jazirah Arab dan dunia Islam secara umum. Mengenai kondisi keagamaan di Nejd dan sekitarnya kala itu yang merupakan tempat dimulainya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Ahmad Al-Usairy menulis, “Kemusyirikan dalam bentuk kepercayaan kepada pohon, batu, dan kuburan telah menyebar. Mereka juga meminta tolong kepada jin, menyembelih untuk mereka, dan bentuk-bentuk penyimpangan lainnya. Syaikh mengumumkan perang terhadap semua itu. Maka, dia mendapatkan perlawanan keras.”

Lihatlah! Bagi siapapun yang berfikir, niscaya akan mendapati satu kesimpulan bahwa yang Syaikh lakukan hanyalah mencontoh dakwah tauhid Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Maka sekiranya kaum tradisionalis menjuluki para da’i yang berdakwah memberantas kemusyirikan dan bid’ah dengan sebutan ‘wahabi’, mengapa gelar yang sama tidak mereka tujukan kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya? Bukankah Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk menghancurkan berhala-berhala yang disembah di sekitar Ka’bah pasca Fathul Makkah? Bukankah Umar bin Khattab juga telah memerintahkan untuk menebang pohon yang di bawahnya pernah berlangsung Baiatur Ridwan karena khawatir akan menjadi sarana kemusyirikan di kemudian hari?

Bukankah Ibnu Mas’ud juga dengan tegas mengingkari amalan bid’ah sekelompok manusia yang tengah melakukan zikir berjamaah? Bukankah Rasulullah dan para sahabatnya juga tidak mengadakan perayaan 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari pasca kematian? Lantas mengapa para kyai tradisionalis tidak berani memasukkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya ke dalam golongan ‘wahabi’ padahal apa yang Rasulullah SAW dan para sahabatnya lakukan justru dicontoh oleh kaum ‘wahabi’?

Di sinilah tampak jelas bahwa sesungguhnya stigmatisasi ‘wahabi’ kepada para da’i yang mendakwahkan tauhid dan sunnah adalah justru untuk menghalangi kaum Muslimin dari memahami Islam yang benar, yakni Islam yang diajarkan Rasulullah SAW kepada sahabatnya. Tapi mengapa yang dipilih sebagai sasaran tembak adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab? Bukankah ulama-ulama Ahlus Sunnah lainnya juga bersikap tegas dalam memberantas segala bentuk kesyirikan dan bid’ah?

Ya benar, akan tetapi Allah menakdirkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hidup dalam satu kurun di mana mayoritas kaum Muslimin telah terjebak dalam praktek-praktek kemusyirikan, sehingga dakwah beliau yang bertujuan mengembalikan umat Islam kepada tauhid yang murni bertentangan dengan arus mayoritas. Ditambah lagi, dakwah tauhid dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ini telah sukses membuahkan tegaknya daulah Su’udiyah yang menguasai dua tanah suci dan selalu menjadi penyokong dakwah tauhid, sehingga fakta tersebut semakin menumbuhkan kedengkian mendalam di hati para pembela tradisi nenek moyang.

Oleh karena itu tidaklah lagi samar dalam pandangan setiap yang berfikir bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tidaklah menciptakan satu aliran baru. Beliau hanya mendakwahkan ajaran Islam sebagaimana dipahami generasi awal umat ini tatkala kebanyakan manusia telah meninggalkan dan berpaling kepada keyakinan maupun amalan-amalan bid’ah. Dakwah beliau adalah dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sama dengan yang didakwahkan oleh Sahabat, Tabi’in, maupun Imam mazhab yang empat.

Sebaliknya, mereka yang menyimpang dari metode beragamanya para Sahabat, yang mencampuradukkan ajaran Islam dengan keyakinan dan ritual di luar Islam, yang gemar melestarikan bid’ah, meminta tolong pada jin, serta hobi ngalap berkah ke kuburan, maka pengakuan mereka sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah hanyalah kedustaan belaka. Sebab yang mereka lestarikan justru merupakan amalan-amalan “asli warisan jahiliyah”.

( Muhamad Karyono )

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: