Skip to content

Semoga Ustadz Idrus Ramli tidak berdusta lagi.

January 3, 2014

Bandingkan Rekaman Video di Batam Sabtu kemaren dengan kedustaan dibawah ini:


Inilah salah satu Kutipan dari Web Resmi Idrus Ramli :

Bagi yang tidak Percaya silahkan rujuk ke: http://www.idrusramli.com/2013/catatan-dialog-ust-idrus-ramli-dengan-wahabi-di-batam-28-desember-2013/

“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

  1. Dalam dialog tersebut, perwakilan dari Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebagai pembicara, hanya al-faqir Muhammad Idrus Ramli. Sedangkan Kiai Thobari Syadzili, hanya menemani duduk, tidak diberi waktu berbicara, kecuali 1 menit menjelang acara dihentikan. Sementara dari pihak Radio Hang atau Wahabi, adalah Ustadz Zaenal Abidin dan Ustadz Firanda Andirja. Isu-isu dari kaum Wahabi, bahwa perwakilan dari Ahlussunnah adalah saya dan beberapa orang, adalah tidak benar. Jadi yang benar, debat 1 orang lawan 2 orang.

2. Dalam acara dialog tersebut, semua pembicara dibatasi oleh waktu. Karenanya mungkin banyak pembicaraan Wahabi yang tidak sempat kami tanggapi, dan sebaliknya.

3. Dalam pengantar dialognya, Ustadz Zaenal Abidin Lc, yang mewakili pihak Wahabi, mengaku sebagai warga NU (Nahdlatul Ulama) tulen. Padahal selama ini, dalam ceramah-ceramahnya ia selalu membid’ahkan amalian warga NU. Dan ternyata, dalam dialog tersebut, Zaenal Abidin, tidak bisa menyembunyikan jatidirinya yang Wahabi. Ia menyalahkan ajaran NU seperti menerima bid’ah hasanah, melafalkan niat dalam ibadah, qunut shubuh, tahlilan (kendurenan tujuh hari), Yasinan dan Yasin Fadhilah. Silahkan pemirsa menilai sendiri dengan hati nurani. Zaenal mengaku warga NU tulen, tetapi menyalahkan semua amaliah NU.

4. Delegasi dari Wahabi, Zaenal maupun Firanda, tidak menaruh hormat kepada pendapat para ulama besar sekaliber Imam Ahmad bin Hanbal, Imam an-Nawawi, al-Hafizh Ibnu Hajar dan lain-lain. Misalnya dalam bahasan bid’ah hasanah, saya mengutip pendapat Imam an-Nawawi yang menjelaskan bahwa hadits kullu bid’atin dhalalah, dibatasi dengan hadits man sanna sunnatan hasanatan. Firanda tidak menghargai pendapat Imam an-Nawawi tersebut, dan memilih berpendapat sendiri. Padahal dia, masih belum layak memiliki pendapat sendiri. Bahkan memahami karya para ulama juga sering keliru. Pembaca dan pemirsa tentu tahu, bahwa ciri khas kaum liberal atau JIL adalah menolak otoritas ulama.

5. Zaenal dan Firanda menggunakan standar ganda dalam menilai pendapat para ulama. Ketika pendapat mereka sesuai dengan semangatnya, mereka mati-matian menyerang tradisi NU, seperti dalam kasus tradisi kenduri kematian selama 7 hari, yang dihukumi makruh dalam kitab-kitab Syafi’iyah. Seakan-akan mereka lebih Syafi’iyah dari pada warga NU. Akan tetapi ketika pendapat para ulama tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, Firanda dan Zaenal menganggap pendapat tersebut tidak ada apa-apanya. Seperti dalam bahasan bid’ah hasanah. Sikap mendua seperti ini, mirip sekali dengan kebiasaan orang Syiah. Ketika hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim sesuai dengan keinginan Syiah, mereka jadikan hujjah. Akan tetapi ketika hadits-hadits tersebut berbeda dengan hawa nafsu Syiah, mereka tolak dan mereka dustakan.

6. Dalam bahasan qunut shubuh, Firanda melakukan kesalahan ilmiah ketika mengomentari tanggapan saya terhadap hadits Abi Malik al-Asyja’i. Sebagaimana dimaklumi, dalam riwayat al-Tirmidzi, an-Nasa’i, Musnad Ahmad dan Ibnu Hibban, Abu Malik al-Asyja’i menafikan qunut secara mutlak, baik qunut nazilah maupun qunut shubuh. Tetapi Firanda mengatakan bahwa dalam kitab-kitab hadits, hadits Abu Malik al-Asyja’i menggunakan redaksi yaqnutun fil fajri (qunut shalat shubuh). Ternyata setelah kami periksa dalam kitab-kitab hadits, kalimat fil fajri tidak ada dalam riwayat-riwayat tersebut. Silahkan diperiksa dalam Sunan al-Tirmidzi juz juz 2 hal. 252 (tahqiq Ahmad Syakir), Sunan al-Kubra lin-Nasa’i, juz 1 hal. 341 tahqiq at-Turki atau al-Mujtaba lin-Nasa’i juz 2 hal. 304 tahqiq Abu Ghuddah.

7. Firanda memaksakan diri mengatakan bahwa hukum kenduri kematian selama tujuh hari menurut Syafi’iyah adalah makruh tahrim. Padahal dalam kitab-kitab Syafi’iyah, hukumnya adalah bid’ah yang makruh dan tidak mustahabbah, alias bukan makruh tahrim. Untuk menguatkan pandangannya, Firanda mengutip pernyataan Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, dalam Asna al-Mathalib, yang berkata “wa hadza zhahirun fit tahrim”. Ternyata setelah kami periksa, Syaikhul Islam Zakariya, masih menghukumi kenduri kematian dengan makruh atau bid’ah yang tidak mustahab (tidak sunnah). Sedangkan keharaman yang menjadi makna zhahir hadits tersebut, oleh beliau dialihkan kepada bukan tahrim. Hal ini dapat dipahami, ketika membaca dengan seksama, bahwa Syaikhul Islam Zakariya dalam pernyataan tersebut, mengutip dari Imam an-Nawawi dalam Raudhah al-Thalibin dan al-Majmu’, yang menghukumi kenduri kematian dengan bid’ah yang tidak mustahab.

8. Zaenal Abidin, kurang memahami istilah-istilah keilmuan. Misalnya tentang qiro’ah syadzdzah (bacaan yang aneh atau menyimpang), dalam membaca al-Qur’an. Menurut Zaenal, orang yang membaca ayat al-Qur’an, apabila diulang-ulang maka termasuk qiro’ah syadzdzah yang diharamkan. Sebaiknya Zaenal belajar ilmu qiro’ah atau ilmu tafsir agar tidak keliru dalam hal-hal kecil.

9. Dalam bahasan melafalkan niat, menurut Firanda dan Zaenal, redaksi niat harus menggunakan redaksi usholli dan nawaitu showma ghadin. Kalau redaksinya dirubah menjadi nawaitu an ushalliya atau inni shoimun, dan atau ashuumu, menurut mereka adalah salah dalam madzhab Syafi’iyah.

Demikian beberapa catatan kami terhadap dialog kemarin. Wallahul muwaffiq.
Wassalam

Muhammad Idrus Ramli
Batam, 30 Desember 2013.”

Jawaban:

Al-Ustadz Idrus Ramli yang semoga Allaah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan hidayah dan taufiq kepada beliau.
Beliau saat ini sedang bermanuver mencari dukungan setelah acara dialog di Kementrian Agama, Batam beberapa hari yang lalu. Dan salah satu manuver beliau ialah dengan membuat berita dan tuduhan dusta untuk menyudutkan pihak Salafiy, salah satunya ketika beliau membuat pernyataan menghebohkan di depan jama’ahnya dengan lantang beliau katakan bahwa Al-Ustadz Zainal Abidin dan Al-Ustadz Firanda hafizhahumallaahu ta’ala kabur dari dialog. Padahal kalau kita melihat kejadian yang sebenarnya baik dari sarana video maupun audio Mp3 maka akan disaksikan kedustaan Al-Ustadz Idrus Ramli tersebut sebab bagaimana dikatakan kabur atau lari tidak ingin berdialog sementara acara selesai sesuai dengan yang di jadwalkan hingga moderatornya sendiri yang menutup kemudian asatidz Salafiy berdiri, mendatangi dan menyalami Al-Ustadz Idrus Ramli dan Al-Ustadz Thabari, lalu dimana, pada menit dan detik keberapa asatidz Salafiy kabur?

Demi Allaah, hujjah begitu kuat dari Al-Qur-an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, sehingga beliau tidak mampu berhujjah dan membantah dengan dalil maka kedustaan yang beliau lakukan.

Kemudian manuver selanjutnya ketika beliau membuat berita di blog atau situs mereka.

Insyaa Allaahu Ta’ala akan dibahas tuntas disini.

CATATAN TERHADAP DEBAT TERBUKA DENGAN WAHABI Di KEMENAG.
Kota Batam, 28 Desember 2013.

Tulisan ini dibuat oleh : KH. Muhammad Idrus Ramli.
Batam, 30 Desember 2013.

Kemudian ditanggapi oleh Abu Mundzir Al-Ghifary hafizhahullaahu ta’ala.

Idrus Ramli berkata :
1. Dalam dialog tersebut, perwakilan dari Ahlussunnah
Wal-Jama’ah sebagai
pembicara, hanya al-faqir Muhammad
Idrus Ramli. Sedangkan Kiai Thobari Syadzili, hanya menemani duduk, tidak diberi waktu berbicara, kecuali 1 menit menjelang acara dihentikan. Sementara
dari pihak Radio Hang atau Wahabi, adalah Ustadz Zaenal Abidin dan Ustadz Firanda Andirja. Isu-isu dari kaum Wahabi, bahwa perwakilan dari
Ahlussunnah adalah KH.Muhammad Idrus Ramli dan beberapa orang, adalah tidak benar. Jadi yang benar,
debat 1 orang lawan 2 orang.

TANGGAPAN :
Perkataan 1 lawan 2 jelas bertentangan dengan kenyataan dari moderator kemenag sudah menyampaikan bahwa yg dari NU 2 orang dan dipersilahkan untuk berdiri dan dia berdiri berarti menyetujui dialog tsb. Tidak benar jika beliau tdk diberikan waktu bicara karena waktu yg ada sudah dibagi dengan baik oleh moderator, tapi jika yg banyak jawab adalah idrus ramli maka otomatis waktunya dihabisin sama si romli. Kmudian di akhir acara dia juga menyampaikan pendapatnya yg sbenarnya sama sekali tidak ‘ilmiyyah tidak ada hujjahnya dan menyampaikan yg ada dalam keyaqinannya tanpa memandang dalil dalil yg sudah dipaparkan kedua belah pihak.

Idrus Ramli berkata :
2. Dalam acara dialog tersebut, semua pembicara dibatasi oleh waktu. Karenanya mungkin
banyak pembicaraan Wahabi yang tidak sempat kami tanggapi, dan sebaliknya.

TANGGAPAN :
Tetapi walaupun singkat, scara garis besar sudah bisa kita lihat mana yang mengikuti dalil dan mana yang membuat jalan baru dari sisi pendalilan. Dan menggunakan dalil dalil yg tidak cocok dengan ritual yang dikerjakannya. Hingga tatkala terpepet tidak ada hujjah kmudian menggunakan perkataan perkataan ulamaa’ mereka yang jelas jelas tidak didukung oleh dalil sama skali dari hadits yg shahih.

Idrus Ramli berkata :
3. Dalam pengantar dialognya, Ustadz Zaenal Abidin Lc, yang mewakili pihak Wahabi, mengaku sebagai warga NU (Nahdlatul Ulama) tulen. Padahal selama ini, dalam ceramah-ceramahnya ia selalu membid’ahkan amaliah warga NU. Dan ternyata, dalam dialog tersebut, Zaenal Abidin, tidak bisa menyembunyikan jatidirinya yang Wahabi. Ia menyalahkan ajaran NU
seperti menerima bid’ah hasanah, melafalkan niat dalam ibadah, qunut shubuh, tahlilan (kendurenan tujuh hari), Yasinan dan Yasin Fadhilah. Silahkan pemirsa menilai sendiri dengan hati nurani. Zaenal mengaku warga NU tulen, tetapi menyalahkan semua amaliah NU.

TANGGAPAN:
Beliau dulunya adalah lulusan ponpes tambakberas jombang yang jelas jelas NU. Dan guru beliau juga NU. Jadi pada asalnya memang NU tulen. Setelah itu beliau belajar di LIPIA dan juga bermajlis dengan Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz rahimahullahuta’ala (mufti saudi arabia). Dan NU versi ustadz zainal abidin ini adalah NU Kitab bukan NU organisasi. Krna kalau NU kitab maka banyak kitab kitab yang dijadikan rujukan NU adalah kitab kitab dari para ulamaa’ ahlussunnah, smisal : al imama asysyafi’I , al imam nawawy, Ibnu Hajar atsqolany, Assuyuthi, dll.
Nah sedangkan NU organisasi jelas tidak bisa dijadikan sandaran kebenaran dalam hal ini krna dlam organisasi NU sendiri banyak perselisihan di dalamnya. Smisal Gusdur dgn muhaimin dll.
Maka yg dimaksud NU oleh ust zainal abidin adlah NU kitab, yang mana beliau juga menyimpan rapi kitab kitab NU dari guru beliau.

Idrus Ramli berkata :
4. Delegasi dari Wahabi, Zaenal maupun Firanda, tidak menaruh hormat kepada pendapat para ulama besar sekaliber Imam Ahmad bin Hanbal, Imam an-Nawawi, al-Hafizh Ibnu Hajar dan lain-lain. Misalnya dalam bahasan bid’ah hasanah, saya mengutip pendapat Imam an-Nawawi yang menjelaskan bahwa hadits kullu bid’atin dhalalah, dibatasi dengan hadits man sanna sunnatan hasanatan. Firanda tidak menghargai pendapat Imam an-Nawawi tersebut, dan memilih
berpendapat sendiri. Padahal dia, masih belum layak memiliki pendapat sendiri. Bahkan memahami karya para ulama juga sering keliru. Pembaca dan pemirsa tentu tahu, bahwa ciri khas kaum liberal atau JIL adalah menolak otoritas ulama.

TANGGAPAN :

Perkataan semisal ustadz zaenal abidin dan ustadz firanda tidak menaruh hormat kepada para ulamaa besar, dan yg semisalnya ini jelas tuduhan yang jauh dari kebenaran. Dan para pemirsa yang melihat video tersebut sangat jelas mendengar bagaimana beliau banyak menukil pendapat-pendapat dari imam nawawy rahimahullah dan para ulama’ syafi’iyyah yg lainnya. Dan bahkan tatkala beliau menukilkan perkataan dari para ulamaa’ tersebut , ust. Idrus ramli yang justru tidak mau mengikuti pemahaman imam madzhab syafi’I dan juga para ulamaa’ yg lain dalam hal pelafadzan niat. Dan justru dia menyandarkan perkataan satu imam yang dijadikan pedoman olehnya dalam keadaan imam tersebut berpendapat tanpa didukung hujjah. Dan menyelisihi imam yg lebih tinggi darinya.

Kita bisa lihat bagaimana kerepotan idrus ramli dalam hal mempertahankan permasalahan pelafadzan niat. Pontang panting kesana kemari tanpa dalil sama sekali, hingga dia katakan bahwa pelafadzan niat itu bebas saja tdk ditentukan dgn lafadz tertentu, jelas ini adalah kesimpulan aqal saja yg mengada ada tanpa hujjah dan tanpa contoh sama sekali dari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dia katakan seolah olah ustadz firanda dan ust. Zaenal memiliki ciri khas kaum liberat atau JIL yakni menolak otoritas ulama’, tentu jelas skali ini fitnah besar yg dihembuskan. Di sebelah mana beliau mengingkari otoritas ulamaa’ padahal pada diskusi di atas beliau berdua (ust. Zainal dan Ust. Firanda) selalu menukil perkataan para ulamaa’. Hanya saja mungkin yg dikehendaki oleh ramli adlah bahwa Ust. Firanda tidak mau mengikuti perkataan dari ulamaa’ yang ramli bawakan tapi malah membantah dengan perkataan ulamaa’ yang lebih tinggi darinya dan justru mematahkan hujjah yg dia bawakan. Nah jika seperti ini maka siapakah yang lebih dahulu terburu buru memvonis yaa ustaadz…??

Selama beliau berdua menempuh jalan dalam pendidikannya maka kita ktahui bersama di perpustakaan saudi terdapat kitab kitab para ulamaa’ melimpah ruah dan bahkan manuskrip aslinya juga ada. Ini semua menjadi rujukan ilmiyah yang dipakai oleh para thulab di sana. Dan apa yang beliau berdua sampaikan juga menukil dari para ulamaa’. Bagaimana mungkin anda katakan sebagaimana JIL/liberal..? Allahulmusta’an..
Dan perkataan anda dalam hal ini sungguh tidak nyambung sama sekali dengan inti persoalan.

Idrus Ramli berkata :
5. Zaenal dan Firanda menggunakan standar ganda dalam menilai pendapat para ulama. Ketika pendapat mereka sesuai dengan semangatnya, mereka mati-matian menyerang tradisi NU, seperti dalam kasus tradisi kenduri kematian selama 7 hari, yang dihukumi makruh dalam kitab-kitab Syafi’iyah. Seakan-akan mereka lebih Syafi’iyah dari pada warga NU. Akan tetapi ketika
pendapat para ulama tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, Firanda dan Zaenal menganggap pendapat tersebut tidak ada apa-apanya. Seperti dalam bahasan bid’ah hasanah. Sikap mendua seperti ini, mirip sekali dengan kebiasaan orang Syiah. Ketika hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim sesuai dengan keinginan Syiah, mereka jadikan hujjah. Akan tetapi ketika hadits-hadits tersebut berbeda dengan hawa nafsu Syiah, mereka tolak dan mereka dustakan.

TANGGAPAN :
Ucapan Idrus ramli dalam no. 5 ini sangat jauh dari kenyataan di video yang bisa kita lihat bersama. Dan apa yang ada di video ini telah mmbantah syubhat seperti ini. Jika perkataan ini disampaikan pada orang yang tidak melihat video tersebut maka dengan mudah akan mempercayai tuduhan ini, tetapi walhamdulillah apa yg tampak di video tersebut telah membantah syubhat spt ini. Dan di no. 5 ini idrus ramli menyamakan al ustadz zainal abidin dan ust. Firanda sbagaimana halnya SYI’AH. Nah tentu tuduhan ini sangatlah parah bila ditinjau dari apa yang kita saksikan di video tersebut. Kemudian masalah hadits kan sudah dijelaskan dengan gamblang banget dalam dialog tersebut, semestinya idrus ramli tidak perlu membuat pernyataan seperti ini. Krna yg idrus ramli maksudkan adalah tatkala ust. Zainal mendho’ifkan hadits yg idrus ramli bawakan. Tapi sanggahan yg idrus ramli bawakan telah terpatahkan oleh pemaparan ust. Zainal abidin. Tentu hal ini tidak bisa dijadikan sandaran bahwa ustadz zainal mapun ust. Firanda menolak dan mendustakan tanpa ‘ILMU. Dan hal ini bisa dilihat di video tersebut.

Idrus Ramli berkata :
6. Dalam bahasan qunut shubuh, Firanda melakukan kesalahan ilmiah ketika mengomentari tanggapan Ust. Muhammad Idrus Ramli terhadap hadits Abi Malik al-Asyja’i. Sebagaimana dimaklumi, dalam riwayat al-Tirmidzi, an-Nasa’i, Musnad Ahmad dan Ibnu Hibban, Abu Malik al-Asyja’i menafikan qunut secara mutlak, baik qunut nazilah maupun qunut shubuh. Tetapi Firanda mengatakan bahwa dalam kitab-kitab hadits, hadits Abu Malik al-Asyja’i menggunakan redaksi yaqnutun fil fajri (qunut shalat shubuh). Ternyata setelah kami periksa dalam kitab-kitab hadits, kalimat fil fajri tidak ada dalam riwayat-riwayat tersebut. Silahkan diperiksa dalam Sunan al-Tirmidzi juz 2 hal.252 (tahqiq Ahmad Syakir), Sunan al-Kubra
lin-Nasa’i, juz 1 hal. 341 tahqiq at-Turki atau al-Mujtaba lin-Nasa’i juz 2 hal. 304 tahqiq Abu Ghuddah.

TANGGAPAN:
Mengenai lafadz بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ
yang dianggap idrus ramli tidak ada dalam kitab kitab hadits (YANG DIA BACA) atau menganggap ust. Zainal abidin dan ust. Firanda keliru maka kesimpulan yang terburu buru. Silahkan dicek di kitab-kitab berikut:

Hadits Sa’ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja’i
قُلْتُ لأَبِيْ : “يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ” فَقَالَ : “أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ”.
“Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid’ah)”. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.

Idrus Ramli berkata :
7. Firanda memaksakan diri mengatakan bahwa hukum kenduri kematian selama
tujuh hari menurut Syafi’iyah adalah makruh tahrim. Padahal dalam kitab-
kitab Syafi’iyah, hukumnya adalah bid’ah yang makruh dan tidak mustahabbah, alias bukan makruh tahrim. Untuk menguatkan pandangannya, Firanda mengutip pernyataan Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, dalam Asna al-Mathalib, yang berkata “wa hadza zhahirun fit tahrim”. Ternyata setelah kami periksa, Syaikhul Islam Zakariya, masih menghukumi kenduri kematian dengan makruh atau bid’ah yang tidak mustahab (tidaksunnah). Sedangkan keharaman yang menjadi makna zhahir hadits tersebut, oleh beliau dialihkan kepada bukan tahrim. Hal ini dapat dipahami, ketika membaca dengan seksama, bahwa Syaikhul Islam Zakariya dalam pernyataan tersebut, mengutip dari Imam an-Nawawi dalam Raudhah al-Thalibin dan al-Majmu’, yang menghukumi kenduri kematian dengan bid’ah yang tidak mustahab.

TANGGAPAN:
Pernyataan idrus Ramli ini telah dibantah tuntas di sini:
28 April 2013
firanda.com/index.php/artikel/bantahan/423-dalil-bolehnya-tahlilan

Dalam pemaparan tersebut ustadz firanda telah menjelaskan panjang lebar dan mematahkanhujjah idrus ramli dan di akhir kata beliau menyatakan :
Jika memang para salaf selalu melakukan tahlilan selama tujuh hari berturut-turut, dan juga hari ke 40, 100, dan 1000 hari sebagaimana yang dipahami oleh ustadz Muhammad Idrus Ramli dan juga Kiyai Syadzily Tobari, maka kenapa kita tidak menemukan sunnah ini disebutkan dalam kitab-kitab fikih madzhab? apakah para ahli fikih empat madzhab sama sekali tidak mengetahui sunnah ini?
Jika idrus ramli mengatakan bahwa para ulamaa’ terkemuka tersebut membolehkan tahlilan, maka tidak kita temui dalam kitab kitab mereka yang menyatakan bahwa sejak zaman sahabat , tabi’in , imam yang empat telah mempraktekan tahlilan yang mereka kerjakan. Dan ini tidak ada sama sekali. Maka jelas bahwa yang mereka persangkakan itu adalah penafsiran mereka sendiri, yang pada kenyataannya tidak ada bukti sama sekali yang membenarkan persangkaan tersebut. Yakni para imam ahlussunnah tidak ada yang melaksanakan acara ibadah TAHLILAN seperti yang mereka lakukan saat ini. Allahulmuwafiq.

Idrus Ramli berkata :
8. Zaenal Abidin, kurang memahami istilah-istilah keilmuan. Misalnya tentang qiro’ah syadzdzah (bacaan yang aneh atau menyimpang), dalam membaca al-Qur’an. Menurut Zaenal, orang yang membaca ayat al-Qur’an, apabila diulang-ulang maka termasuk qiro’ah syadzdzah yang diharamkan. Sebaiknya Zaenal belajar ilmu qiro’ah atau ilmu tafsir agar tidak keliru dalam hal-hal kecil.

TANGGAPAN:
Ustadz zaenal tidak ada menyatakan bahwa bacaan yang diulang-ulang itu adalah Qiro’ah syadzdzah. Perkataan ustadz zaenal : “… Kayak ini,ini ada yasin fadhilah,cara membacanya yasin yasin yasin yasin yasin,ini kira2 qiro’ah apa gitu lho ? Padahal Ibnul Abdil Barr saja sebagaimana yg telah dinukil Imam suyuti membaca Al-Qur’an dengan qiro’ah syadzdzah ijma’ haram,APALAGI INI SYADZDZAH AJA ENGGAK. ….”
Tidak ada sama sekali pernyataan ust zaenal bahwa membaca Al-Qur’an apabila diulang-ulang maka termasuk qiro’ah syadzdzah,sepert yg Idrus Ramli tuduhkan. Silahkan lihat video Jam ke 1 menit ke 40..
Ucapan ini adalah salah sasaran, karena ustadz zainal abidinlah yang telah memaparkan kaidah kaidah tafsir berdasarkan ulamaa’ mufasiriin pada saat mudzakarah dengan sa’id aqil munawar mantan menteri agama yang videonya bisa dilihat di sini (bersambung part 1-part 10) :

youtube.com/watch?v=mZaB9cDtNaI
Kita semua termasuk idrus ramli memang harus terus belajar, akan tetapi pantaskah kita katakan kepada beliau sekaliber ust. Zainal abidin, lc hafidhahullah dengan perkataan “SEBAIKNYA zaenal belajar dst…??” yang dimaksudkan untuk merendahkan ke’ilmuan beliau. Maka sejak awal tulisan ini sudah sering idrus ramli mengucapkan kata kata yg tidak pantas seperti ini.

Idrus Ramli berkata :
9. Dalam bahasan melafalkan niat, menurut Firanda dan Zaenal, redaksi niat harus
menggunakan redaksi usholli dan nawaitu showmaghadin. Kalau redaksinya dirubah menjadi nawaitu an ushalliya atau inni shoimun, dan atau ashuumu, menurut mereka adalah salah dalam madzhab Syafi’iyah. Demikian beberapa catatan kami terhadap dialog kemarin.

TANGGAPAN:
Idrus Ramli salah faham dalam pernyataannya ini. Karena yang dimaksud ustadz zaenal abidin dan ustadz firanda adalah bahwasanya melafadzkan niat tidak berhujjah sama sekali, Maka jika dipaksa paksakan juga aneh. Ini sudah disampaikan beliau. Semisal perkataan idrus ramli yang mengatakan bahwa lafadznya bebas, nah ini dibantah dengan argumen bahwa jika ada murid yg melafadzkan selain usholli maka tentu akan disalah salahkan oleh kyainya. Dan ini ma’lum.

Di ponpes maupun di sekolahan maka tetap saja dianggap salah niat. Idrus ramli membela diri dengan mengatakan bahwa bebas saja lafadz tsb, nah inipun tanpa hujjah krna tidak pernah sama sekali hal ini ada contohnya dari Rasulullah dan para sahabatnya, bahkan para imam empat itu sendiri tidak ada satupun yang mencontohkan hal ini.
Jawabannya semakin aneh saja.
Wallahua’lam bishshowaab.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: