Skip to content

Indahnya Nasehatmu Wahai Sang Guru

January 3, 2014

 debatPenanya: Wahai Syaikh, Apa nasehat anda bagi para pemuda yang menyibukkan diri dalam “Al-qila wa A-Qool” di internet dan berbantah-bantahan?

 Asy-Syaikh: Menyibukkan apa?

 Penanya: Menyibukkan diri dalam “Al-Qila wal A-Qool” di internet

 Asy-Syaikh: “Al-Qila wal Qool”?”

 Penanya: Ya

 Asy-Syaikh: Nasehatku agar mereka mempelajari ilmu(agama) dan menyibukkan diri dengan ilmu (agama) sehingga ia mencapai kebaikan dan mengamalkannya, dan ia memberikan manfaat bagi manusia dengan ilmu itu, dan hendaknya ia meninggalkan “Al-Qiila wa Al-Qool” yang tidak memberikan kepada mereka kebaikan, ia hanya memberikan mereka miudharat, ini nasehat saya bagi mereka.

 Penanya: Dan mereka menyibukkan diri berbantah-bantahan sedangkan mereka bukan ahlinya

 Asy-Syaikh: Selamanya(Tidak!), wajib atas mereka untuk memperdalam ilmu agama dan menyibukkan diri dengan ilmu yang bermanfat dan janganlah mereka menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang mereka bukan ahlinya

 Penanya: Jazaakumullahhu khairan.

 [Transkrip Tanya jawab bersama guru tercinta Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbaad(Muhaddits Kota MAdinah)-hafidzahullah Ta’aala-, setelah pelajaran mata kuliah kitab Sunan An-Nasaaiy yang disampaikan di Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Madinah , Kerajaaan Arab Saudi. Tanggal rekaman: 2 Muharram 1435/ 05 November 2013]

 Keterangan:

 Makna Al-Qiila wa Al-Qool menurut para ulama:

 Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan: ” Qiila wa Qool” memperbanyak ucapan dan menyebar berita yang mengkhawatirkan, seperti ucapan seseorang: “si fulan mengatakan (begini)”, “si fulan melakukan(ini)” dan ikut-ikutan dalam perkara yang tidak pantas

 Al-Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata: “Qiila wa Qool” adalah masuk campur dalam kabar-berita orang lain dan menghikayatkan sesuatu yang tidak penting dari keadaan-keadaan dan perbuatan mereka. (Syarah Shahih Muslim, pada hadits no. 3236)

Beliau juga berkata : makna “Qiila wa Qool” adalah; menceritakan semua yang ia dengarkan, ia berkata: “katanya begini”, “kata si fulan begitu” dari perkara yang ia (sendiri) tidak mengetahui keabsahannya, tidak pula menyangkanya(demikian). Cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta, (tatkala) ia menceritakan semua yang ia dengarkan. (Syarah Riyadhus Shaalihin, Bab no. 41)

 Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Qiila wa Qool” maksudnya mengutip ucapan dan kebanyakan apa yang diucapkan oleh manusia dan ia banyak berkomentar dengannya. Dan tidak ada tujuannya melainkan membicarakan orang lain, “mereka bilang begini dan katanya begitu”. Apalagi jika perkara ini terkait kehormatan Ahli Ilmu(ulama) dan kehormatan penguasa, maka akan sangat dan sangat dibenci di sisi Allah (Syarah Riyadhus Shalihiin)

 Berkata guru kami Asy-Syaikh Robi-hafidzahullah- : “Qiila wa Qool” masuk campur dalam kebathilan dan pada perkara yang tidak penting. (Mudzakkiroh Fii Al-Hadits An-Nabawiy, hal. 18)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: