Skip to content

WAHABI, antara DOGMA & FAKTA

August 6, 2012
Oleh: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A hafidzahullah
 
Kita ucapkan puji syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menambah wawasan keagamaan kita sebagai salah satu bentuk aktivitas ‘ubudiyah (peribadahan) kita kepada-Nya. Shalawat beserta salam buat nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam –yang telah memperjuangkan agama yang kita cintai ini demi tegaknya kalimat tauhid di permukaan bumi.
 
Dalam kesempatan ini kami ingin menjelaskan tentang “Sosok dan Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab”.
 
Sengaja kami mengupas dan mengulas topik ini sebagai tanggapan terhadap anggapan sebagian orang (akan, -adm) adanya kaitan antara Wahabi dan Teroris. Kami menulis ini semata-mata ingin meluruskan sebuah kekeliruan dalam masalah tersebut. Dan sebagai nasihat bagi seluruh kaum muslimin di negeri ini, agar tidak terprovokasi dengan anggapan tersebut. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kami dalam mengulas topik tersebut.
 
Pertanyaan yang amat singkat di atas membutuhkan jawaban yang cukup panjang. Jawaban tersebut akan tersimpul dalam beberapa poin berikut ini:
 
  • Keadaan yang melatarbelakangi munculnya tuduhan Wahabi
  • Kepada siapa tuduhan Wahabi tersebut diarahkan?
  • Pokok-pokok landasan dakwah yang dicap Wahabi
  • Bukti kebodohan tuduhan Wahabi terhadap dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
  • Ringkasan dan penutup
 
KEADAAN YANG MELATARBELAKANGI MUNCULNYA TUDUHAN WAHABI
 
Dengan melihat gambaran sekilas tentang keadaan Jazirah Arab serta negeri sekitarnya, kita akan tahu sebab munculnya tuduhan tersebut sekaligus kita akan mengerti apa yang melatarbelakanginya. Yang ingin kita tinjau di sini adalah dari aspek politik dan keagamaan secara umum dan aspek awidah secara khusus.
 
Dari aspek politik, Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah. Terlebih khusus di daerah Nejed, perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.
 
Para penguasa hidup dengan memungut upeti dari rakyat jelata. Jadi, mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang akan dapat menggoyang kekuasaan mereka. Begitu pula dari kalangan para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang aqidah dan agama yang benar. Dari sini mereka sangatberhati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang aqidah atau agama yang benar.
 
Dari segi aspek agama, pada abad 12 H (17 M) keadaan keberagamaan umat Islam sudah sangat jauh menyimpang dari kemurnian Islam, terutama dalam aspek aqidah. Banyak sekali praktek-praktek syirik atau bid’ah. Bukannya para ulama yang ada tidak mengingkari hal tersebut, melainkan usaha mereka hanya sebatas lingkungan mereka saja dan tidak berpengaruh secara luas atau hilang ditelan arus gelombang yang begitu kuat dari pihak yang menentang karena jumlah mereka yang begitu banyak. Di samping itu, ada pengaruh kuat dari tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung praktek-praktek syieik dan bid’ah tersebut demi kelanggengan pengaruh mereka atau karena mencari kepentingan duniawi di belakang itu. Sebagaimana keadaan seperti ini masih kita saksikan di tengah-tengah sebagian umat Islam. Barangkali negara kita masih dalam proses ini, di mana aliran-aliran sesat dijadikan sebagai batu loncatan untuk mencapai pengaruh politik.
 
Pada saat itu, di Nejed sebagai tempat kelahiran sang pengibar bendera tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sangat menonjol dalam hal tersebut. Disebutkan oleh penulis sejarah dan penulis biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bahwa di masa itu pengaruh keagamaan melemah di dalam tubuh kaum muslimin sehingga tersebarlah berbagai bentuk maksiat, khurafat, syirik, bid’ah, dan sebagainya. Karena ilmu agama mulai minim di kalangan kebanyakan kaum muslimin, praktek-praktek syririk terjadi di sana-sini, seperti meminta ke kuburan wali-wali, atau meminta ke batu-batu dan pepohonan dengan memberikan sajen, atau mempercayai dukun, tukang tenung, dan peramal. Salah satu daerah di negeri Nejed, namanya kampung Jubailiyah, di situ terdapat kuburan sahabat Zaid bin Khaththab (saudara Umar bin Khaththab) yang syahid dalam peperangan melawan Musailamah al-Kadzdzab. Manusia berbondong-bondong pergi ke sana untuk meminta berkah, untuk meminta berbagai hajat. Begitu pula di kampung ‘Uyainah terdapat pula sebuah pohon yang diagungkan. Para manusia juga mencari berkah ke situ, termasuk kaum wanita yang belum juga mendapatkan pasangan hidup meminta ke sana.
 
Adapun daerah Hijaz (Makkah dan Madinah), sekalipun tersebarnya ilmu dikarenakan keberadaan dua kota suci yang selalu dikunjungi oleh para ulama dan penuntut ilmu, di sini tersebar kebiasaan suka bersumpah dengan selain Allah ‘Azza wa Jalla, menembok dan membangun kubah-kubah di atas kuburan serta berdo’a di sana untuk mendapatkan kebaikan atau untuk menolak mara bahaya dan sebagainya.[1]
 
Begitu pula halnya dengan negeri-negeri sekitar Hijaz, apalagi negeri yang jauh dari dua kota suci tersebut. Ditambah lagi kurangnya ulama, tentu akan lebih memprihatinkan lagi dari apa yang terjadi di Jazirah Arab.
 
Hal ini disebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya Qawa’id Arba’, “Sesungguhnya kedyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu. Kesyirikan umat yang lalu hanya pada waktu senang saja, tetapi mereka ikhlas pada saat menghadapi bahaya. Sementara itu, kesyirikan pada zaman kita senantiasa ada pada setiap waktu, baik di saat aman apalagi saat mendapat bahaya. Dalilnya firman Allah:
 

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

 
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya . maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, seketika mereka (kembali) berbuat syirik. (QS. al-‘Ankabut [29]: 65)
 
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan bahwa ketika mereka berada dalam ancaman bencana yaitu tenggelam di lautan. Mereka berdo’a hanya semata kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan melupakan berhala atau sembahan mereka, baik dari orang shalih, batu, dan pepohonan. Namun, saat mereka telah selamat sampai di daratan mereka kembali berbuat syirik. Akan tetapi, pada zaman sekarang orang melakukan syirik dalam setiap saat.”
 
Dalam keadaan seperti di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka sebab untuk kembalinya kaum muslimin kepada agama yang benar, bersih dari kesyirikan dan bid’ah. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
 

إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها

 
Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang memperbaharui untuk umat ini agamanya.”[2]
 
Pada abad 12 H (17 M) lahirlah seorang pembaharu di negeri Nejed, yaitu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dari kabilah Bani Tamim yang pernah mendapat pijian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits beliau:
 

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : ما زلت أحب بني تميم منذ ثلاث سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول فيهم سمعته يقول (هم أشد أمتي على الدجال). قال وجاءت صدقاتهم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم (هذه صدقات قومنا). وكانت سبية منهم عند عائشة فقال (أعتقيها فإنها من ولد إسماعيل).

 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku senantiasa mencintai suku Bani Tamim semenjak aku mendengar tiga hal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara tentang mereka, ‘Mereka (Bani Tamim) adalah umatku yang paling keras terhadap Dajjal.’ Dan tatkala harta zakat mereka datang, beliau berkata, ‘Ini adalah zakat kaum kami.’ Dan salah seorang wanita dari mereka menjadi tawanan di sisi Aisyah, beliau berkata, ‘Bebaskanlah ia, sesungguhnya ia adalah anak dari keturunan Isma’il.’ “[3]
 
Tepatnya tahun 1115 H di ‘Uyainah di salah satu perkampungan daerah Riyadh. Beliau lahir dalam lingkungan keluarga ulama. Kakek dan bapak beliau merupakan ulama yang terkemuka di negeri Nejed. Belum berumur sepuluh tahun beliau telah hafal al-Qur’an. Ia memulai petualangan ilmunya ayah kendungnya dan pamannya. Dengan modal kecerdasan dan ditopang oleh semangat yang tinggi, beliau berpetualang ke berbagai daerah tetangga untuk menuntut ilmu seperti daerah Bashrah dan Hijaz, sebagaimana lazimnya kebiasaan para ulama dahulu yang membekali diri mereka dengan ilmu yang matang sebelum turun ke medan dakwah.
 
Hal ini juga disebut oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya Ushul Tsalatsah, “Ketahuilah semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya wajib atas kita untuk mengenal empat masalah:  Pertama, ‘Ilmu’ yaitu mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, mengenal nabi-Nya, mengenal agama Islam dengan dalil-dalil. (Kemudian beliau sebutkan dalil tentang pentingnya ilmu sebelum beramal dan berdakwah. Beliau sebutkan ungkapan Imam Bukhari: ‘Bab berilmu sebelum berbicara dan beramal’.) Dalilnya firman Allah ‘Azza wa Jalla:
 

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ

 
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan minta ampunlah atas dosamu. (QS. Muhammad [47]: 19)
 
Maka dalam ayat ini Allah Jalla Jalaluhu memulai dengan perintah ilmu sebelum berbicara dan beramal.”
 
Setelah beliau kembali dari petualangan ilmu, beliau mulai berdakwah di kampung Huraimilak di mana ayah kandung beliau menjadi qadhi (hakim). Di samping berdakwah, beliau tetap menimba ilmu dari ayah beliau sendiri. Setelah ayah beliau meninggal pada tahun 1153 H, beliau semakin gencar mendakwahkan tauhid. Ternyata kondisi dan situasi di Huraimilak kurang menguntungkan untuk berdakwah di sana.
 
Selanjutnya beliau berpindah ke ‘Uyainah. Ternyata penguasa ‘Uyainah saat itu memberikan dukungan dan bantuan untuk dakwah yang beliau bawa. Namun, akhirnya penguasa ‘Uyainah mendapat tekanan dari berbagai pihak.
 
Akhirnya beliau berpindah lagi dari ‘Uyainah ke Dir’iyah. Ternyata masyarakat Dir’iyah telah banyak mendengar tentang dakwah beliau melalui murid-murid beliau. Termasuk sebagian di antara murid beliau adalah keluarga penguasa Dir’iyah. Akhirnya timbul inisiatif dari sebagian murid-murid beliau untuk memberi tahu pemimpin Dir’iyah tentang kedatangan beliau. Dengan rendah hati Muhammad bin Saud sebagai pemimpin Dir’iyah waktu itu mendatangi tempat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menumpang. Maka terjalinlah di situ perjanjian yang penuh berkah di antara keduanya. Keduanya saling berjanji akan bekerja sama dalam menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mendengar adanya perjanjian tersebut, mulailah musuh-musuh aqidah (musuh tauhid) kebakaran jenggot. Mereka berusaha dengan berbagai dalih untuk menjatuhkan kekuasaan Muhammad bin Saud dan menyiksa orang-orang yang pro terhadap dakwah tauhid.
 
KEPADA SIAPA DITUDUHKAN GELAR WAHABI TERSEBUT?
 
Karena hari demi hari dakwah tauhid semakin tersebar, mereka –para musuh dakwah- tidak lagi mampu untuk melawan dengan kekuatan, maka mereka berpindah arah dengan memfitnah dan menyebarkan isu-isu bohong supaya mendapat dukungan dari pihak lain untuk menghambat laju dakwah tauhid tersebut. Di antara firnah yang tersebar adalah sebutan Wahabi untuk orang yang mengajak kepada tauhid. Sebagaimana lazimnya setiap penyeru kepada kebenaran pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan onak duri dalam menapaki perjalanan dakwah.
 
Sebagaimana telah dijelaskan pula oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab beliau Kasyfu Syubuhat, “Ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya di antara hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak diutus seorang nabi pun dengan tauhid ini, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan baginya musuh-musuh. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
 
Bila kita membaca sejarah para nabi, tidak seorang pun di antara mereka yang tidak menghadapi tantangan dari kaumnya. Bahkan di antara mereka ada yang dibunuh. Termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir dari tanah kelahirannya. Beliau dituduh sebagai orang gila, sebagai tukang sihir, dan penyair. Begitu pula para ulama yang mengajak kepada ajarannya dalam sepanjang masa. Ada yang dibunuh, dipenjara, disiksa, dan sebagainya. Atau dituduh dengan tuduhan yang bukan-bukan untuk memojokkan mereka di hadapan manusia.  Supaya orang lari dari kebenaran yang mereka serukan.”
 
Hal ini pula yang dihadapi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Sebagaimana yang beliau ungkapkan dalam lanjutan surat beliau kepada penduduk Qashim,

“Kemudian tidak tersembunyi lagi atas kalian. Saya mendengar bahwa surat Sulaiman bin Suhaim (seorang penentang dakwah tauhid) telah sampai kepada kalian. Lalu sebagian di antara kalian ada yang percaya terhadap tuduhan-tuduhan bohonh yang ia tulis. Yang mana saya sendiri tidak pernah mengucapkannya. Bahkan tidak pernah terlintas dalam ingatanku. Seperti tuduhannya:
Bahwa saya mengingkari kitab-kitab madzhab yang empat.
Bahwa saya mengatakan bahwa manusia semenjak enam ratus tahun lalu sudah tidak lagi memiliki ilmu.
Bahwa saya mengaku sebagai mujtahid.
Bahwa saya mengatakan bahwa perbedaan pendapat antara ulama adalah bencana.
Bahwa saya mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang-orang shalih.
Bahwa saya pernah berkata, ‘Jika saya mampu, saya akan runtuhkan kubah yang ada di atas kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Bahwa saya pernah berkata, ‘Jika saya mampu, saya akan ganti pancuran Ka’bah dengan pancuran kayu.’
Bahwa saya mengharamkan ziarah kubur.
Bahwa saya mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Jawaban saya untuk tuduhan-tuduhan ini adalah: ‘Sesungguhnya ini semua adalah suatu kebohongan yang nyata.’ “

Lalu beliau tutup dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum dengan kebodohan. (QS. al-Hujurat [49]: 6)[4]

POKOK-POKOK LANDASAN DAKWAH YANG DICAP SEBAGAI WAHABI
 
Pokok landasan dakwah yang utama sekali beliau tegakkan adalah pemurnian ajaran tauhid dari berbagai campuran syirik dan bid’ah, terutama dalam mengkultuskan para wali dan kuburan mereka. Hal ini akan tampak jelas bagi orang yang membaca kitab-kitab beliau, begitu pula surat-surat beliau[5]:
 
Dalam sebuah surat beliau kepada penduduk Qashim. Beliau paparkan aqidah beliau dengan jelas dan gamblang. Ringkasannya sebagai berikut, “Saya bersaksi kepada Allah dan kepada para malaikat yang hadir di sampingku serta kepada Anda semua:
 
  • Saya bersaksi bahwa saya berkeyakinan sesuai dengan keyakinan golongan yang selamat yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dari beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, kepada hari berbangkit setelah mati, kepada taqdir baik dan buruk.
  • Termasuk dalam beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah beriman dengan sifat-sifat-Nya yang terdapat dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya tanpa tahrif (merubah pengertiannya) dan tidak pula ta’til (mengingkarinya). Saya berkeyakinan bahwa tiada satu pun yang menyerupai-Nya. Dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
 
Komentar: Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang menyerupakan Allah ‘Azza wa Jalla dengan makhluk (Musyabbihah atau Mujassimah).
 
  • Saya berkeyakinan bahwa al-Qur’an itu adalah Kalamullah yang diturunkan. Ia bukan makhluk. (ia) datang dari Allah ‘Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya.
  • Saya beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu berbuat terhadap segala apa yang dikehendaki-Nya. Tidak satu pun yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Tiada satu pun yang keluar dari kehendak-Nya.
  • Saya beriman dengan segala perkara yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang akan terjadi setelah mati. Saya beriman dengan adzab dan nikmat kubur, tentang akan dipertemukannya kembali antara roh dan jasad. Kemudian manusia dibangkitkan menghadap Sang Pencipta sekalian alam, dalam keadaan tanpa sandal dan pakaian, serta dalam keadaan tidak berkhitan, matahari sangat dekat dengan mereka. Lalu amalan manusia akan ditimbang, serta catatan amalan mereka akan diberikan kepada mereka masing-masing, sebagian mengambilnya dengan tangan kanan dan sebagian yang lain dengan tangan kiri.
  • Saya beriman dengan haudh (telaga) Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Saya beriman dengan shirath (jembatan) yang terbentang di atas neraka Jahannam. Manusia melewatinya sesuai dengan amalan mereka masing-masing.
  • Saya beriman dengan syafa’at Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwa dia adalah orang yang pertama kali memberi syafa’at. Orang yang mengingkari syafa’at adalah termasuk pelaku bid’ah dan sesat.
 
Komentar: Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengingkari syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 
  • Saya beriman dengan surga dan neraka. Dan keduanya telah ada sekarang. Serta keduanya tidak akan sirna.
  • Saya beriman bahwa orang mukmin akan melihat Allah ‘Azza wa Jalla dalam surga kelak.
  • Saya beriman bahwa Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup segala nabi dan rasul. Tidak sah iman seseorang sampai ia beriman dengan kenabiannya dan kerasulannya.
 
Komentar: Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengaku sebagai nabi atau tidak memuliakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau mengarang sebuah kitab tentang sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan judul Mukhtashar Sirah ar-Rasul. Bukankah ini suatu bukti tentang kecintaan beliau kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?
 
  • Saya mencintai para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula para keluarga beliau. Saya memuji mereka dan mendo’akan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka. Saya menutup mulut dari membicarakan kejelekan dan perselisihan yang terjadi antara mereka.
  • Saya mengakui karomah para wali Allah. Akan tetapi, apa yang menjadi hak Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak boleh diberikan kepada mereka. Tidak boleh meminta kepada mereka sesuatu yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
 
Komentar: Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang mengingkari karomah atau tidak menghormati para wali.
 
  • Saya tidak mengkafirkan seorang pun dari kalangan muslim yang melakukan dosa dan tidak pula mengeluarkan mereka dari lingkaran Islam.
 
Komentar: Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau membawa paham teroris mengkafirkan kaum muslimin atau berpaham Khawarij. Baca juga Manhaj Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab fi Mas’alah at-Takfir karya Ahmad ar-Rudhaiman.
 
  • Saya berpandangan tentang wajibnya taat kepada para pemimpin kaum muslimin, baik yang berlaku adil maupun yang berbuat zalim, selama mereka tidak menyuruh kepada perbuatan maksiat.
 
Komentar: Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau orang yang menganut paham teroris atau Khawarij. Dari sini terbukti kebohongan pihak-pihak yang mencoba mengait-ngaitkan dakwah beliau dengan teroris.
 
  • Saya berpandangan tentang wajibnya menjauhi para pelaku bid’ah, sampai ia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Saya menilai mereka secara lahir. Adapun amalan hati mereka saya serahkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  • Saya berkeyakinan bahwa iman itu terdiri dari: ucapan lisan, perbuatan anggota tubuh, dan pengakuan dengan hati. Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
 
BUKTI KEBODOHAN TUDUHAN WAHABI TERHADAP DAKWAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
 
Dengan membandingkan antara tuduhan-tuduhan sebelumnya dengan aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang kita sebutkan di atas, tentu dengann sendirinya kita akan mengetahui kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut. Tuduhan-tuduhan bohong tersebut disebarluaskan oleh musuh dakwah Ahlus Sunnah ke berbagai negeri Islam. Sampai pada masa sekarang ini, masih banyak orang tertipu dengan kebohongan tersebut, sekalipun telah terbukti kebohongannya. Bahkan seluruh kitab-kitab di karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab membuktikan kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut.
 
Kita ambil contoh kecil saja dalam kitab beliau Ushul Tsalatsah, kitab yang kecil sekali tapi penuh dengan mutiara ilmu. Beliau mulai dengan menyebutkan perkataan Imam Syafi’i, kemudian di pertengahannya beliau beliau sebutkan perkataan Ibnu Katsir yang bermadzhab Syafi’i. Jika beliau tidak mencintai para imam madzhab yang empat  atau hanya berpegang dengan madzhab Hambali saja, mana mungkin beliau akan menyebutkan perkataan mereka tersebut.
 
Bahkan beliau dalam salah satu surat beliau kepada salah seorang kepala suku di daerah Syam berkata, “Saya katakan kepada orang yang menentangku: ‘Sesungguhnya yang wajib atas manusia adalah mengikuti apa  yang diwasiatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bacalah buku-buku yang terdapat pada kalian. Jangan kalian ambil dari ucapanku sedikit pun. Tetapi apabila kalian telah mengikuti perkataan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam kitab kalian tersebut maka ikutilah, sekalipun kebanyakan manusia menentangnya.”[6]
 
Komentar: Dalam ungkapan beliau di atas jelas sekali bahwa beliau tidak mengajak manusia kepada pendapat beliau, tetapi mengajak untuk mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 
Para ulama dari berbagai negeri Islam pun membantah tuduhan-tuduhan bohong tersebut setelah mereka melihat secara nyata dakwah yang beliau tegakkan. Seperti dari daerah Yaman, Imam asy-Syaukani dan Imam ash-Shan’ani. Dari negeri India, Syaikh Mas’ud an-Nadawi. Dari Iraq Syaikh Muhammad Syukri al-Alusi.
 
Syaikh Muhammad Syukri al-Alusi berkata setelah beliau menyebutkan berbagai tuduhan bohong yang disebarkan oleh musuh-musuh terhadap dakwah tauhid dan pengikutnya, “Seluruh tuduhan tersebut adalah kebohongan, fitnah, dan dusta semata dari musuh-musuh mereka. Dari golongan pelaku bid’ah dan kesesatan. Bahkan kenyataannya seluruh perkataan dan perbuatan serta buku-buku mereka menyanggah tuduhan itu semua.[7]
 
Begitu pula Syaikh Mas’ud an-Nadawi dari India berkata, “Sesungguhnya kebohongan yang amat nyata yang dituduhkan terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah penamaannya dengan Wahabi. Akan tetapi, orang-orang yang rakus berusaha mempolitisir nama  tersebut sebagai agama di luar Islam. Lalu Inggris dan Turki serta Mesir bersatu untuk menjadikannya sebagai lambang yang menakutkan. Ysng mana setiap muncul kebangkitan Islam di berbagai negeri, lalu orang-orang Eropa melihat akan membahayakan mereka. Mereka lalu menghubungkannya dengan Wahabi, sekalipun keduanya saling bertentangan.”[8]
 
Komentar: Seperti pernyataan seorang yang ditokohkan di sebuah media massa bahwa teroris lahir dari paham Wahabi, yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Kami ingin bukti referensi dari apa yang dikatakan beliau tersebut.
 
Begitu pula Raja Abdul Aziz dalam sebuah pidato yang beliau sampaikan di kota Makkah di hadapan jama’ah haji tgl. 11 Mei 1929 M dengan judul “Inilah Aqidah Kami”, “Mereka menamakan kami sebagai orang-orang Wahabi. Mereka menakmakan madzhab kami Wahabi, dengan anggapan sebagai madzhab khusus. Ini adalah kesalahan yang amat keji, muncul dari isu-isu bohong yang disebarkan oleh orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu. Dan kami bukanlah pengikut madzhab dan aqidah baru. Muhammad bin Abdul Wahab tidak membawa sesuatu yang baru. Aqidah kami adalah aqidah salafush shalih, yaitu yang terdapat dalam kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, serta apa yang menjadi pegangan salafush shalih. Kami memuliakan imam-imam yang empat. Kami tidak membeda-bedakan antara imam-imam: Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah. Seluruh mereka adalah orang-orang yang dihormati dalam pandangan kami, sekalipun kami dalam masalah fiqih berpegang dengan madzhab Hambali.”[9]
 
Pernyataan bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah usaha pemurnian aqidah dari syirik dan bid’ah tidak hanya dari kalangan para ulama tetapi juga dari kalangan orientalis. Orientalis Sidyu dalam kitabnya Tarikh al-‘Arab al-‘Am berkata –setelah ia menggambarkan bagaimana petualangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam menuntut ilmu-, “Tiadalah tujuan pembaharuan yang dipimpinnya (yakni Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) selain mengembalikan syari’at Rasul yang murni seperti sediakala.”[10]
 
Disebutkan dalam kitab Dairatul Ma’arif al Brithaniyah (Ensiklopedi Inggris), di sini diterangkan tentang Wahabi: “Wahabi adalah nama untuk gerakan pemurnian dalam Islam. Orang-orang Wahabi adalah mereka yang mengikuti ajaran Rasul. Mereka meninggalkan segala hal yang selainnya. Orang-orang yang memusuhi Wahabi, mereka adalah musuh-musuh Islam.”[11]
 
Komentar: Dari sini terbukti lagi kebohongan dan propaganda yang dibuat oleh musuh Islam dan musuh dakwah Ahlus Sunnah bahwa teroris diciptakan oleh Wahabi. Karena seluruh buku-buku aqidah yang menjadi pegangan di kampus-kampus Saudi Arabia tidak pernah luput dari membongkar kesesatan teroris (Khawarij dan Mu’tazilah). Begitu pula tuduhan bahwa mereka tidak menghormati para wali Allah atau dianggap membuat madzhab yang kelima. Pada kenyataannya semua buku-buku yang dipelajari dalam seluruh jenjang pendidikan adalah buku-buku para wali Allah dari berbagai madzhab. Penulis sebutkan di sini buku-buku yang menjadi panduan di Universitas Islam Madinah:
 
  • Untuk mata kuliah Aqidah: kitab Syarh Aqidah Thahaqiyah karya Ibnu ‘Izz al-Hanafi, Fathul Majid karya Abdurrahman bin Hasan al-Hambali. Ditambah sebagai penunjang al-Inabah karya Imam Abu Hasan al-Asy’ari, al-Hujjah karya al-Ashfahani asy-Syafi’i, asy-Syari’ah karya al-Ajurri, kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, kitab at-Tauhid karya Ibnu Mandah, dll.
  • Untuk mata kuliah Tafsir: Tafsir Ibnu Katsir asy-Syafi’i, Tafsir asy-Syaukani. Ditambah sebagai penunjang: Tafsir ath-Thabari, Tafsir al-Qurthubi al-Maliki, Tafsir al-Baghawi asy-Syafi’i, dll.
  • Untuk mata kuliah Hadits: Kutub as-Sittah beserta syarahnya seperti: Fathul Bari karya Ibnu Hajar asy-Syafi’i, Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi asy-Syafi’i, dll.
  • Untuk mata kuliah Fiqih: Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd al-Maliki, Subulus Salam karya ash-Shan’ani. Ditambah sebagai penunjang: al-Majmu’ karya Imam an-Nawawi asy-Syafi’i, al-Mughni karya Ibnu Qudamah al-Hambali, dll.
 
Selanjutnya kami mengajak para hadirin (maksudnya mungkin: pembaca, –admin) semua apabila mendengar tuduhan jelek tentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau membaca buku yang menyebarkan tuduhan jelek tersebut, maka sebaiknya ia meneliti langsung dari buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau buku-buku ulama yang seaqidah dengannya, supaya ia mengetahui tentang kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut,  sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita:
 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

 
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat [49]: 6)
 
Sebab, buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bisa didapatkan dengan sangat mudah terlebih-lebih pada musim haji dibagi-bagikan secara gratis. Di situ akan terbukti bahwa beliau tidak mengajak kepada madzhab baru atau kepercayaan baru yang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Namun, semata-mata ia mengajak untuk beramal sesuai dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, sesuai dengan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dan generasi terkemuka umat ini, serta menjauhi bentuk bid’ah dan khurafat.
 
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab maupun para ulama yang melanjutkan perjuangan beliau dalam memurnikan aqidah umat tidak pernah menamakan dakwah beliau dengan Wahabi. Bahkan mereka tidak suka dengan sebutan dan gelar tersebut. Karena tuduhan tersebut sengaja dilontarkan oleh musuh-musuh Islam dan musuh-musuh dakwah Ahlis Sunnah untuk memojokkan dan memecah-belah umat Islam.
 
Akan tetapi, kenapa sebagian orang masih suka memojokkan dan mengejek dengan tuduhan dan gelar tersebut? Sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:
 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ۝ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ۝

 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Hujurat [49]: 11-12)
 
Di awal perjalanan, dakwah beliau mendapat tantangan dari kepala suku dan tokoh-tokoh sufisme yang suka memuja kuburan. Kemudian tatkala dakwah semakin berkembang dan tegaknya hukum Islam dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, mulailah dari sini Inggris memfitnah dan bekerja sama dengan Ali Basya dari Dinasti Utsmani untuk menghancurkan dakwah beliau. Berikutnya dakwah (yang dituduh Wahabi) mendapat tantangan dari kelompok teroris. Mereka mengkafirkan para ulama dan melakukan teror di Kerajaan Arab Saudi. Seperti majalah Risalah Mujahidin Th. III/ edisi 26 terbit bulan Safar 1430 H/Jan.-Feb. 2009 M, membahas dua judul yang memfitnah:
 
  • Dinasti Saudi Satu Trah Dengan Yahudi?
  • Poros Setan Mencabik Islam di Tanah Haram.
 
PANDANGAN PARA ULAMA AHLUS SUNNAH (YANG DICAP WAHABI) TERHADAP TERORISME
 
Penulis tidak melihat perjuangan dan kesungguhan ulama dalam menumpas teroris sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama (yang dicap Wahabi) dalam menumpas teroris. Mereka setiap saat menerangkan kepada umat tentang bahaya laten teroris, baik dalam bentuk karya ilmiah, tulisan, artikel, ceramah, fatwa, seminar, dl. Bahkan mereka menumpas teroris ke akar-akarnya. Mereka menjelaskan dan membongkar kesalahan para tokoh teroris dalam berargumentasi dengan ayat dan hadits.
 
Bahkan gembong-gembong teroris internasional mengkafirkan para ulama yang membongkar kesesatan mereka tersebut. Bagaimana bisa dikatakan bahwa dakwah (yang dicap Wahabi) ada kaitan dengan teroris? Kami meminta bukti kepada setiap orang (yang) melontarkan tuduhan tentang terkaitnya dakwah (yang dituduh Wahabi) dengan terorisme. Kami tidak meminta satu kitab, tetapi cukup satu ungkapan saja dari ulama (yang dicap Wahabi) mengarah kepada doktrin teror. Menurut hemat kami, orang yang menuduh adanya kaitan antara dakwah (yang dicap Wahabi) dengan teroris ada beberapa kemungkinan:
 
Pertama: Adakalanya ia belum mengenal, belum memahami (mengerti) apa itu teroris dan bagaimana doktrin pamahamannya.
 
Kedua: Atau adakalanya ia belum mengenal, belum memahami (mengerti) tentang landasan dakwah (yang dicap Wahabi) dan bagaimana pemahamannya.
 
Ketiga: Atau adakalanya ia hanya mengambil informasi dari satu pihak saja, yaitu dari pihak yang mudah menuduh, mudah berkesimpulan sebelum mengadakan eksperimen, penelitian, dan pengkajian mendalam terhadap pihak yang dituduh.
 
Keempat: Atau sengaja ingin melakukan sebuah propaganda dalam memecah-belah umat Islam, dengan mengelompokkan mereka ke dalam berbagai kelompok lalu membenturkan antara satu kelompok dengan yang lainnya.
 
Kelima: Atau ada agenda dan tujuan tertentu di balik tuduhan itu semua, bisa saja dari musuh Islam atau dari musuh dakwah Ahlis Sunnah, atau mungkin saja dari kelompok yang mendukung tindakan teror untuk mengalihkan tuduhan.
 
HIMBAUAN
 
Melalui tulisan ini kami mengusulkan kepada pihak yang berwenang untuk mengikutsertakan para pakar agama dalam menumpas bahaya laten teroris tersebut, kemudian memperbaiki mutu kurikulum agama terlebih khusus kurikulum aqidah. Karena, jika dicermati, hanya dengan mengajarkan aqidah yang benar segala bahaya bisa kita hadapi. Islam memiliki solusi yang sempurna untuk memecahkan segala permasalahan baik sosial politik maupun sosial keagamaan, termasuk hubungan antar umat beragama. Islam mengharamkan berbuat zhalim terhadap sesama manusia bahkan terhadap binatang sekalipun. Teroris tidak mungkin bisa ditumpas dengan senjata semata. Sekalipun personnya mati, pemikiran dan doktrinnya tetap berkembang melalui tulisan dan media-media lainnya. Di negeri ini banyak sekali tersebar referensi yang menebar doktrin teroris dengan alasan kebebasan berpendapat dan berpikir.
 
Sebaliknya, perlu pula mencegah pencemaran agama di tangan orang-orang liberal. Karena, hal ini juga akan berakibat kepada teror. Walau di awalnya tidak terkesan menuju ke sana, muaranya tetap berakibat fatal dan berbahaya.
 
Perlu kami tegaskan, yang kami maksud pakar agama di atas bukanlah orang yang belajar Islam di Barat. Karena, mereka yang belajar ke Barat adalah orang yang paling bodoh dalam memahami agama. Dan mereka mengajak orang supaya bodoh dengan agama.
 
RINGKASAN
 
  • Seorang da’i hendaklah membekali dirinya dengan ilmu yang cukup sebelum terjun ke medan dakwah.
  • Seorang da’i hendaklah memulai dakwah dari tauhid, bukan kepada politik; selama umat tidak beraqidah benar, selama itu pula politik tidak akan stabil.
  • Seorang da’i hendaklah sabar dalam menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam menegakkan dakwah.
  • Seorang da’i yang ikhlas dalam dakwahnya harus yakin dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan menolong orang yang menolong agama-Nya.
  • Tuduhan Wahabi adalah tuduhan yang datang dari musuh dakwah Ahlus Sunnah wal jama’ah, dengan tujuan untuk menghalangi orang dari mengikuti dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
  • Muhammad bin Abdul Wahab bukanlah sebagai pembawa aliran baru atau ajaran baru, melainkan seorang yang berpegang teguh dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
  • Perlunya ketelitian dalam membaca atau mendengar sebuah isu atau tuduhan jelek terhadap seseorang atau suatu kelompok, terutama merujuk pemikiran seseorang tersebut melalui tulisan atau karyanya sendiri untuk pembuktian berbagai tuduhan dan isu yang tersebar tersebut.
 
PENUTUP
 
Sebagai penutup, kami mohon maaf atas segala kekurangan dan kekeliruan dalam penyampaian materi ini. Semua itu adalah karena keterbatasan ilmu yang kami miliki. Semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat bagi kami sendiri dan bagi kaum muslimin semua. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlihatkan kepada kita yang benar itu adalah benar kemudian menuntun kita untuk mengikuti kebenaran itu, dan memperlihatkan kepada kita yang salah itu adalah salah lalu menjauhkan kita dari mengikuti yang salah itu.
 
Sebagian tulisan ini pernah kami sampaikan dalam tabligh akbar 21 Juli 2005 di kota Jeddah, Arab Saudi.
 
Kami menulis apa yang kami paparkan di atas sesuai dengan pengalaman kami terhadap kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama yang dicap sebagai Wahabi selama dua belas tahun di kota Madinah, yaitu selama kami menempuh perkuliahan di Universitas Islam Madinah dari S-1 sampai S-3.
 
Sumber: Majalah AL FURQON No. 122, hal.  27-36 rubrik Manhaj.
 

[1] Lihat pembahasan ini di dalam kitab Roudhotul Afkar karya Ibnu Qhanim.
[2] HR. Abu Dawud no. 4291 dan al-Hakim no. 8592
[3] HR. Bukhari no. 2405 dan Muslim no. 2525
[4] Baca jawaban untuk bebagai tuduhan di atas dalam kitab-kitab berikut: Mas’ud an-Nadawi dalam Muhammad bin Abdul Wahab Mushlih Mazhlum, Abdul Aziz Abdul Lathif dalam Da’awi Munawi’in li Da’wah Muhammad bin Abdil Wahab, Shalih Fauzan dalam Min A’lam al-Mujaddidin, dll.
[5] Lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kitab Majmu’ Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab jilid 3.
[6] Lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kitab Majmu’ Muallafat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab jilid 3.
[7]Al-Alusi dalam Tarikh Nejed hlm. 40
[8] Muhammad bin Abdul Wahab Mushlih Mazhlum hlm. 165
[9] Al-Wajiz fi Sirah Malik Abdul Aziz hlm. 216
[10] Dinukil oleh Ahmad al Buthami dalam kitabnya hlm. 230
[11] Ibid, hlm. 232
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: